Jurnal akhir zaman.

Gaji

...

Halo internet, karena udah lama ngga nulis dan sepertinya tangan mulai gatal juga. Kenapa jarang nulis rutin, ya tentunya blog ini nggak ngehasilin duit akwokaoa, toh fungsi blog ini ya dipakek buat memisuhi apa yang terjadi dan patut jadi topik obrolan di percangkruk-an kalian.

Kalo ngomongin tongkrongan sekarang, masuk fase umur > 20an keatas topiknya kalo nggak kerjaan, ya bahas siapa yang bakal nikah selanjutnya di circle kalian.

Nganu...

Tentang kerjaan, kadang emang suka ngeri ngeliat temen-temen yang sekarang udah di korporat gede dan punya posisi di tempat mereka. Secara pendidikan ya beberapa cuman lulusan setara SMA tapi udah pada jadi Sr Engineer, Principal, Sr UI Designer dll pokok level senior, secara gaji ya kalian tau sendiri kalau level senior berapa.

Hal itu sudah selayaknya mereka dapatkan karena jam terbang mereka sudah jauh terjun lama dan terasah di level industri, tapi ya namanya manusia kadang memang agak "ngiri" sama pencapaian orang lain yang kadang kala achievement mereka lebih cepat didapat daripada kita sendiri.

Tapi apa relevan mereka digaji segitu? Tentunya iya.

Zaman sekarang umur bukan patokan buat dapet gaji yang terbilang gede *fakyu senioritas, pinter-pinteran aja deket sama atasan trus promosi jabatan ~ups

Terus pertanyaannya, apa bisa kita minim effort, luntang-luntung, modal goler kasur tapi gaji gede selevel jeff bezoss? tangio bro ilermu durung dilap..

Yang selama ini dipikiran kita adalah gaji gede = pekerjaan makin mudah, oww ya tentu tidak sayangkuuuu, semakin tinggi level pekerjaan tentu saja tanggung jawab semakin besar dan rewardnya gaji diatas rata-rata itu.

Simpelnya, itu bentuk mutualisme sama instansi terkait lah. Kamu untung , corporat untung winwin solusyen.

Jikalau di instansi kalian nggak ada mutualisme dan hasil kurang sesuai, ya mending resign aja daripada mengabdi buat romusha, ingat hidup ya nggak buat kerja aja brow. Ambil cangkulmu mari mengarit bersamaku ....

Kalau dari kasus diatas nggak selamanya gaji itu dibuat tolak ukur buat resign, seriusan deh nggak selamanya kita jadikan gaji jadi pemicu utamanya, yakalau masih ada kompor yang harus menyala, sabar dulu sambil berdoa tahan dulu resignnya.

Kita memang dituntut untuk realistis, tapi terkadang ya intropeksi juga dengan diri sendiri, apakah kita sudah ber-impact? seberapa pantaskah? atau hanya sekedar afk aja dan meminta gaji lebih?

Hati-hati juga ketika kita pasang harga terlalu tinggi bisa aja itu jebakan betmen, dan seenggaknya kita memantaskan diri buat dibayar segitu yang menyesuaikan dengan kapasitas yang kita punya.

Ya intinya tentang tau diri dan dapat pemasukan yang sesuai kapasitas kita yekann ...

Oh iyoo cashtagku tetep kok \$ffadilaputra

Salam hangat..