flatburger

Digital 101

...

Kalau dirasakan, dari zaman sekitar tahun 2008 - 2011, di Indonesia cara belanja online beda banget sama sekarang. Sejak tahun 2016an hingga sekarang, belanja online pakai aplikasi / web jadi hal biasa dan sudah jadi semacam habbit baru.

Dulu, proses belanja online punya langkah yang berbeda. Salah satu pionir olshop di Indonesia adalah Kaskus dengan Forum Jual Beli (FJB)-nya.

Kalau dilihat-lihat, dulu masih banyak interaksi antara seller dan buyer yang masih manual, alias harus japri gan. Keamanannya juga kadang belum terjamin. Saat itu, satu-satunya parameter kepercayaan adalah review dan bukti resi pengiriman.

Sebenarnya apa yang terjadi dari tahun 2008 hingga sekarang?

Dan kenapa aplikasi pada bermunculan?

Ulah Apple

Apple merilis App Store di Juli 2008. Yang paling menarik disini, 1 tahun sebelumnya mereka ngundang para third party developer buat bikin program khusus di iPhone, jadi orang selain dari pegawai apple memungkinkan membuat aplikasi mereka sendiri di publish ke app store milik apple. Sebelumnya, aplikasi cuma jadi sebatas fitur aja dari handphone.

Inget Snake / Space impact di hape nokia gak? Sebenernya juga aplikasi, tapi akhirnya cuma jadi fitur buat HP Nokia. Nah, inisiatif Apple ini lah yang bikin iPhone berbeda pada masanya, karena aplikasi yang terdapat di iPhone jadi berlimpah. Efeknya, tiap iPhone user bisa pakai iPhone buat tujuan yang beda-beda, kayak nge-game, fokus ke produktivitas, atau sekadar update berita terbaru.

Uniknya cuma dalam seminggu App Store dirilis, ada 10 juta download untuk 800 lebih aplikasi yang tersedia di dalam App Store! Amazing bet !!

Hal ini bisa dicapai oleh Apple karena mereka udah pasang kuda-kuda duluan, ya bisa dibilang curi start : ngundang third party developers buat bikin aplikasi yang kompatibel sama iPhone setahun sebelum App Store dirilis.Apple juga bolehin para pengembang aplikasi iPhone meraup untung dengan skema bagi hasil 70:30!. Sekitar 70% dari jumlah yang dibayarkan downloader tiap download aplikasi berbayar didistribusikan ke pengembang, dan sisa 30% diberikan ke Apple.

FYI nih, WhatsApp dulunya juga berbayar , Whatsapp meraup \$ 0.70 karena Apple bikin skema pembagian 70:30 di App Store tadi.

Artinya, tiap transaksi yang dilakukan oleh pengguna Apple di App Store, Apple bakal dapet 30%-nya. Dalam kasus ini, tiap kali WhatsApp didownload, Apple bakal dapet $ 0.30 dan WhatsApp $ 0.70.

Melihat inovasi yang sebegitu hypenya, otomatis kompetitor juga pada bermunculan seperti :

  • Google Play Store yang dulunya android market
  • Blackberry World
  • Windows store

Karena inovasi dan persaingan semakin ketat, maka hanya beberapa yang dapat bertahan dari medan perang, tau sendiri kan yang akhirnya bertahan siapa. Kemudian si android market rebranding jadi google playstore, biar apa kira-kira? ya biaar tetep bisa saingan sama apple lah.

Kesuksesan Apple mempopulerkan mobile apps gak cuma karena bagus di segi produknya, tapi juga diringi oleh strategi pemasaran yang oke, produk bagus jualannya harus sepadan juga donkk.

Bulan Januari 2009, Apple ngerilis sebuah campaign "There's an app for that" yang bikin app jadi kata yang paling sering diucap di tahun 2010. Campaign yang dibuat Apple sampe viral banget waktu itu, keliatan kan viralnya indo sama luar itu kayak apa, indo seleb doang yang viral 😅 . Sampai netizen dikit-dikit bilang "Kan ada appnya" tiap kali mau ngelakuin sesuatu.

Kebangkitan Google Play store

Google juga gamau kalah juga dong, Google Play Store juga pelan-pelan sukses sampai punya 1 juta aplikasi di Juli 2013. Mereka juga hasilin 50 juta download di seluruh dunia waktu itu.

Gambar

Tau sendiri di zaman sekarang ini, banyak perusahaan besar berbasis aplikasi yang juga mengakuisisi perusahaan lain. Kayak Facebook yang akuisisi Instagram dan Whatsapp buat ngambil data user ngembangin bisnisnya.

Gambar

Aplikasi gratis kok tajir

Pernah kepikiran gak, kenapa Facebook bisa tajir melintir padahal bikin akunnya gratis?

Kata kuncinya ada di data, perusahaan raksasa seperti Google, Facebook, Amazon, Microsoft dan lain-lain. Mereka yang telah berperan besar dalam kehidupan digitalmu, yang memungkinkan kalian bisa berkomunikasi dengan teman dan kerabat yang jauh, yang mengijinkan kalian mengintip kabar terbaru mantan dan pasangannya saat ini, yang membuat kalian malu dengan foto-fotomu di masa lalu.

Kalian emang bisa bikin apa saja yang kalian mau. Sayangnya akan tidak pernah tahu apa yang sebenarnya kalian miliki, berapa harganya dan untuk berapa lama.

Oke balik lagi ke fesbuk, satu-satunya harta yang kita miliki adalah data pribadi. Apapun itu bentuknya. Berkas komunikasi digital berupa pesan singkat, posting status, foto liburanmu yang kalian banggakan ataukah jejak pencarian.

Jika kamu tidak membayar sepeserpun untuk sebuah produk, maka kitalah produknya!

Terus kalau cuuma data aja yang diambdil fesbuk dapet duit dari mana dong?

Facebook dapet duit dari para advertiser, gimana ceritanya?

Kita yang punya akun personal emang gak bayar pakai duit. Tapi kita "bayar" ke Facebook adalah dengan hal-hal sederhana yang kita lakukan tadi. Kayak ngisi biodata, beraktivitas kayak ngelike atau ngeview, apa aktif di forum.

Yang bayar duit ke Facebook disebut advertiser yang pengen ngiklanin produknya ke kalian. Beranda kalian banyak iklan? Tanpa disadari kita sudah disuguhkan iklan oleh fesbuk yang sudah dipesan oleh advertiser dimana algoritmanya menyesuaikan behaviour dari sesuatu apa yang sudah kita like, komen tadi.

Bisnis model canvas facebook

Sumber gambar : Binar academy

Intinya, baik Facebook atau bisnis berbasis internet lainnya perlu punya pendapatan (revenue) buat bayar operasional, kayak bayar gaji karyawan, nyewa kantor, dsb.

Cara mereka cari uang (revenue stream) juga unik, karena cara bekerja satu platform dan lainnya juga berbeda.

Oke sekian dulu tulisan random perkembangan teknoligi ini, kenapa 101? ya karena bahasannya random aja kurang runtut

Semoga bermanfaat ✌🏻