📖 Menyusun CV yang agak benar

Ivan Fadila Putra / November 11, 2020

4 min read––– views

Pembukaan

Ketika membicarakan pekerjaan, sebagian dari kita pasti tidak asing dengan hal-hal yang terkait dengan pekerjaan, contoh umunya seperti mencari lowongan kerja. Untuk apply pekerjaan dalam sebuah korporat, tentunya kita membutuhkan item pendukung seperti ijazah, curriculum vitae, sertifikat dan item pendukung lainnya.

Karena ini bukan perkuliahan D4 / S1, alangkah baiknya ijazah nya di sekip aja, langsung ngebahas lebih lanjoot si curriculum vitae ini dan mawapress mending minggir dulu, kan mawapres gaperlu ginian.

Pengangguran welcome to the jungle ....

Marsupilami

Tentang CV

Dimulai bermula dengan konsep CV ini sendiri, Curriculum vitae bukan Commanditaire Vennootschap merpakan salah satu lampiran dokumen yang dapat digunakan diberbagai keperluan lur. Ngelampirin cv ini bisa jadi syarat buat daftar kuliah S2, S3 , (es terossss), beasiswa, melamar kerja, daftar ormas dan masih banyak lagi. Isi dari cv inipun bisa meliputi data pribadi, riwayat pendidikan, prestasi, pekerjaan yang pernah dicapai.

Membuat CV dengan baik merupakan hal yang cukup membingungkan bagi beberapa orang, karena sebagian dari kita ingin dilirik atau caper sama recruiter kan 👀 (ngaku aja), kalo gaada cv gimana? goyang dumang? atau bikin tiktok ala jamet kabupaten ?

Karena nggak ada panduan khusus tentang membuat cv yang baik dan benar, mungkin beberapa solusi dariku bisa juga jadi solusi buat kalian pembaca, dan sebagian besar tulisan disini hanyalah memberikan tips agar cv yang dibuat lebih simpel dan informatif.

Mari kita bahas masalah beserta solusinya, insya Allah berfaedah ..

Informasi Pribadi

Info Pribadi

Menuliskan data pribadi yang terlalu privasi, semisal mencantumkan tempat tanggal lahir, alamat rumah, terus apa lagi ? nomer KK juga mau kau tulis ?

Data pribadi yang perlu dicantumkan nama, domisili, email / nomor hp yang dapat dihubungi, selain informasi itu sifatnya opsional banget.

Mencantumkan semua riwayat pendidikan

Riwayat pendidikan

Seringkali melihat kasus, menulis informasi riwayat pendidikan mencantumkan semua informasi mulai dari TK / SD - Kuliah. Yang membuat cv memakan banyak tempat sedangkan lembaran cv idealnya itu 2 lembar 🤔. Hey bani adam, gak sekalian Mifa sama Mafa kalian cantumin sekalian ?

Akronim dan tata bahasa

Akronim

Tentang akronim, memberikana gambaran yang sejelas-jelasnya merupakan hal wajib yang perlu dilakukan saat menulis cv. Apalagi ketika kita aktif dalam ke-organisasian tertentu dan disitu yang kita dapatkan pasti banyak sekali, entah itu prestasi yang diraih, pencapaian apa saja yang sudah didapat dan itu sangat perlu sekali ditulis dengan jelas.

Hal yang perlu dihindari saat penulisan nama organisassi semacam HIPMI, HTMI, NU, FPI dan lainnya, akronim ini sangat rancu untuk ditulis jadi lebih baik lagi ditulis lebih lengkap nama organisasi tersebut bukan hanya sekedar akronim.

Tulis secara singkat udah ngapain aja di organisasi itu dan bahasa pengejaan secara tepat alias hilangkan "typo", oh iya sertakan memberi rentan jeda waktu jabatan agar mengerti spesifik masa menjabatnya.

Desain

Sample

Untuk dari sisi desain, tidak perlu desain aneh-aneh melainkan susunan dan rapi secara visual (good looking lah). Diusahakan perpaduan warna dan font sesuai, apalagi apply ke sistem pemerintahan, formal dan simpel. Berbeda dengan industri kreatif yang seringkali menuntut kreativitas dari kandidat dan dapat pertimbangan dan penilaian kemampuan dari yang dimiliki.

Jadi untuk masalah desain, sesuaikan dari industri seperti apa yang sekiranya sesuai dengan gaya desain kalian.

Referensi penysunan konten CV oleh mas (twitter.com/afnizarnur)[@afnizarur]

Penilaian subjektif

Skill

Penulisan subjektif dapat mencakup pengukuran kemampuan untuk penguasaan hard skill atau softskill. Jika ingin menuliskan kemampuan yang dimiliki, tidak dianjurkan memberikan penilaian pribadi di dalamnya, contoh gambar diatas memberikan presentase pada setiap skill yang menjadi semakin ambigu, bagaimana kita dapat mengetahui bahwa skill X tersebut 20%? tolak ukur nya apa ?

Lebih bagus skill dicantumkan dan diberikan keterangan sudah kalian lalui dengan skill itu. Semisal, membuat sebuah produk dengan skill itu, atau bisa juga memenangkan suatu perlombaan / penghargaan dari lembaga tertentu sehingga dapat dipertanggung jawabkan.